Beberapa minggu lalu aku bertemu dengan seorang kawan baru. Kami memang baru kenal, namun banyak sekali kecocokan diantara kami yang membuatku merasa akrab dengannya.
Kami bertemu di sebuah restoran yang menjual Cwie Mie Malang di daerah Cilandak. Awalnya kami hanya ngobrol tentang topik-topik dangkal saja, tentang teman, tentang pacar dan tentang kekesalannya kepada seseorang. Sampai akhirnya ia mulai bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Beberapa waktu lalu, aku memang sempat jalan bareng. dan ia sempat menceritakan tentang keluarganya. Ketika kami bertemu lagi dan ia menceritakan kehidupan pribadinya, barulah snap shot-snap shot cerita sebelumnya mulai terungkap. Cerita-ceritanya sangat mengejutkan.. aku nggak tau harus bilang apa.
Ia anak pertama dari 5 bersaudara. Dan ia merupakan tulang punggung keluarga. Semua masalah keluarganya, ia yang berusaha menyelesaikannya. Padahal umurnya tak berbeda jauh dariku. Ia satu tahun lebih tua dariku. Ia mengaku ayah dan ibunya saat ini sakit-sakitan, sehingga hanya dia yang bisa diandalkan untuk mencari uang. Masalah-masalah di keluarganya bukan hanya masalah sepele. Terlalu banyak masalah, sampai ia sulit sekali mendapat kebebasan fisik dan mental.
Dia terus bercerita. Kami berdua tidak sadar bahwa hari sudah semakin larut. Pacarnya berkali-kali menelponnya. Sesaaat aku sempat iri padanya. Diantara segudang masalah, ia masih punya seseorang yang bisa diandalkan, yang tak lain dan tak bukan adalah pacarnya. Pacarnya terus mendampinginya saat ia dalam masalah maupun saat senangnya.
Akhirnya kami menyadari bahwa sudah malam dan harus segera pulang. Kami pun berpisah. Di perjalanan pulang, aku hanya berpikir betapa anehnya ia menceritakan semua kepadaku dan menyadari bahwa aku semakin iri padanya. Bahwa dia punya pacar yang perhatian dan sangat sayang dengannya. Bahkan, mungkin aku sudah lupa tentang masalah pibadinya.
Keesokan hari aku baru menyadari, betapa menyebalkan pacarku. Kenapa sih dia nggak bisa peduli padaku sedikit saja. Kemanapun aku pergi, mana pernah ia bertanya sudah pulang atau belum. Mana pernah ia khawatir saat aku berada dimana. Menyebalkan. Hanya itu yang ada di otakku seharian. Hal itu pun terbawa saat aku chating dengan pacarku. Akhirnya malam setelah pulang kantor, aku bilang ke pacarku betapa ngirinya aku pada temanku itu, yang tidak lain juga teman sepermainannya dulu waktu masa kuliah. Pacarku yang sudah tau adatku, ternyata sudah tau kalau uring-uringanku saat itu pasti ada hubungannya dengan pertemuanku dengan temannya kemarin.
Pacarku memang tidak sempurna. Ya iyalah...dia kan manusia. Pasti ada kurangnya dan lebihnya. Dia emang cuek, cuek dan cuek. Heran...ada yah orang bebal kaya gitu. Tapi entahlah, aku merasa nyaman saat bersamanya. Padahal sudah berkali-kali aku nangis karena kelakuannya. Yang jelas, saat aku sedang bercerita betapa ngirinya aku pada temanku itu, ia menamparku dengan kata-katanya, yang diucapkan sambil tertawa. Ia bilang kalau aku tidak bersyukur dengan yang aku dapat. Jedeeerrr jederr jederrrr serasa kilat menyambar. Ia memang paling bisa membuatku berpikir, dan mungkin karena itu juga aku menyukainya.
Setelah ia menamparku dengan kata-katanya yang simpel itu, aku kemudian berpikir. Mungkin benar yang ia bilang. Pikiranku kembali melayang ke pertemuanku dengan temanku kemarin....Hmmmmmmmm membayangkan..gimana rasanya jadi dia. Susah punya kebebasan fisik dan mental karena harus ngurusin semua masalah keluarga dan kantor. Ia memang punya pacar penyayang. Tapi otak dan hatinya gak pernah lepas dari masalah-masalahnya. Yang hebat darinya, segudang masalah nggak membuat ia jadi orang yang nggak menyenangkan. Ia teman yang baik, kakak yang baik, anak yang baik dan mungkin juga pacar yang baik..Sedangkan aku ???.. ya ampun..kalau bukan karena pacarku yang barusan menamparku, mungkin aku nggak akan pernah sadar.
Alhamdulillah sampai saat ini aku hidup cukup. Masalah keluarga pun nggak pernah sampai membuatku pusing dan tak bebas secara fisik dan mental. Masalahku paling-paling cuma masalah rebutan mobil sama adik dan kakakku..padahal kalau dipikir-pikir banyak orang nggak punya mobil, dan mereka nggak masalah.
Pacarku pun walaupun bebal, tapi aku juga nggak kalah bebalnya. Seringkali aku merengek minta ini itu tanpa mikirin situasi. Dan ia pun juga tak jarang menuruti rengekanku. Aku ingat, awal puasa lalu ia sempat mengantarku ke daerah Fatmawati dan Kuningan cuma untuk nyari modem. Padahal aku tau ia capek, dan sedang berpuasa. Tapi ia dengan ikhlas menuruti egoku. Dan tak jarang juga ia menjemputku kalau aku pulang malam. Bahkan, ketika kemarin tak ada satupun anggota keluarga yang mendengar keluhanku, ia bersedia mendengarnya. Walupun mungkin saja dalam hatinya menganggap itu cuma hal sepele.
Aah aku malu pada diriku, malu pada mamah papahku, malu pada pacarku dan malu pada temanku itu meskipun ia nggak tahu. Tapi aku lebih malu pada Tuhan...ya ampuun aku serasa jadi orang buta, congean, nggak punya otak dan sebagainya. Kenapa masih saja aku kurang bersyukur. Padahal segudang nikmatNya tak pernah absen diberikan kepadaku. Keluarga yang cukup, pekerjaan yang nyaman dengan orang-orang menyenangkan, dan pacar yang walaupun ngeselin tapi selalu membuatku nyaman.
Yaa ampun selama ini kemana saja sih aku ?? Padahal tiap hari juga aku menghadapNya dan mengucap syukur atas nikmatNya. Tapi kemana semua doa-doa itu ?? Tiba-tiba saja aku takut semua nikmatNya dicabut dariku karena aku terlalu bebal untuk menyadarinya. Yaa Tuhan ampuni aku.. yang masih saja kurang bersyukur atas semua nikmatMu...
Kami bertemu di sebuah restoran yang menjual Cwie Mie Malang di daerah Cilandak. Awalnya kami hanya ngobrol tentang topik-topik dangkal saja, tentang teman, tentang pacar dan tentang kekesalannya kepada seseorang. Sampai akhirnya ia mulai bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Beberapa waktu lalu, aku memang sempat jalan bareng. dan ia sempat menceritakan tentang keluarganya. Ketika kami bertemu lagi dan ia menceritakan kehidupan pribadinya, barulah snap shot-snap shot cerita sebelumnya mulai terungkap. Cerita-ceritanya sangat mengejutkan.. aku nggak tau harus bilang apa.
Ia anak pertama dari 5 bersaudara. Dan ia merupakan tulang punggung keluarga. Semua masalah keluarganya, ia yang berusaha menyelesaikannya. Padahal umurnya tak berbeda jauh dariku. Ia satu tahun lebih tua dariku. Ia mengaku ayah dan ibunya saat ini sakit-sakitan, sehingga hanya dia yang bisa diandalkan untuk mencari uang. Masalah-masalah di keluarganya bukan hanya masalah sepele. Terlalu banyak masalah, sampai ia sulit sekali mendapat kebebasan fisik dan mental.
Dia terus bercerita. Kami berdua tidak sadar bahwa hari sudah semakin larut. Pacarnya berkali-kali menelponnya. Sesaaat aku sempat iri padanya. Diantara segudang masalah, ia masih punya seseorang yang bisa diandalkan, yang tak lain dan tak bukan adalah pacarnya. Pacarnya terus mendampinginya saat ia dalam masalah maupun saat senangnya.
Akhirnya kami menyadari bahwa sudah malam dan harus segera pulang. Kami pun berpisah. Di perjalanan pulang, aku hanya berpikir betapa anehnya ia menceritakan semua kepadaku dan menyadari bahwa aku semakin iri padanya. Bahwa dia punya pacar yang perhatian dan sangat sayang dengannya. Bahkan, mungkin aku sudah lupa tentang masalah pibadinya.
Keesokan hari aku baru menyadari, betapa menyebalkan pacarku. Kenapa sih dia nggak bisa peduli padaku sedikit saja. Kemanapun aku pergi, mana pernah ia bertanya sudah pulang atau belum. Mana pernah ia khawatir saat aku berada dimana. Menyebalkan. Hanya itu yang ada di otakku seharian. Hal itu pun terbawa saat aku chating dengan pacarku. Akhirnya malam setelah pulang kantor, aku bilang ke pacarku betapa ngirinya aku pada temanku itu, yang tidak lain juga teman sepermainannya dulu waktu masa kuliah. Pacarku yang sudah tau adatku, ternyata sudah tau kalau uring-uringanku saat itu pasti ada hubungannya dengan pertemuanku dengan temannya kemarin.
Pacarku memang tidak sempurna. Ya iyalah...dia kan manusia. Pasti ada kurangnya dan lebihnya. Dia emang cuek, cuek dan cuek. Heran...ada yah orang bebal kaya gitu. Tapi entahlah, aku merasa nyaman saat bersamanya. Padahal sudah berkali-kali aku nangis karena kelakuannya. Yang jelas, saat aku sedang bercerita betapa ngirinya aku pada temanku itu, ia menamparku dengan kata-katanya, yang diucapkan sambil tertawa. Ia bilang kalau aku tidak bersyukur dengan yang aku dapat. Jedeeerrr jederr jederrrr serasa kilat menyambar. Ia memang paling bisa membuatku berpikir, dan mungkin karena itu juga aku menyukainya.
Setelah ia menamparku dengan kata-katanya yang simpel itu, aku kemudian berpikir. Mungkin benar yang ia bilang. Pikiranku kembali melayang ke pertemuanku dengan temanku kemarin....Hmmmmmmmm membayangkan..gimana rasanya jadi dia. Susah punya kebebasan fisik dan mental karena harus ngurusin semua masalah keluarga dan kantor. Ia memang punya pacar penyayang. Tapi otak dan hatinya gak pernah lepas dari masalah-masalahnya. Yang hebat darinya, segudang masalah nggak membuat ia jadi orang yang nggak menyenangkan. Ia teman yang baik, kakak yang baik, anak yang baik dan mungkin juga pacar yang baik..Sedangkan aku ???.. ya ampun..kalau bukan karena pacarku yang barusan menamparku, mungkin aku nggak akan pernah sadar.
Alhamdulillah sampai saat ini aku hidup cukup. Masalah keluarga pun nggak pernah sampai membuatku pusing dan tak bebas secara fisik dan mental. Masalahku paling-paling cuma masalah rebutan mobil sama adik dan kakakku..padahal kalau dipikir-pikir banyak orang nggak punya mobil, dan mereka nggak masalah.
Pacarku pun walaupun bebal, tapi aku juga nggak kalah bebalnya. Seringkali aku merengek minta ini itu tanpa mikirin situasi. Dan ia pun juga tak jarang menuruti rengekanku. Aku ingat, awal puasa lalu ia sempat mengantarku ke daerah Fatmawati dan Kuningan cuma untuk nyari modem. Padahal aku tau ia capek, dan sedang berpuasa. Tapi ia dengan ikhlas menuruti egoku. Dan tak jarang juga ia menjemputku kalau aku pulang malam. Bahkan, ketika kemarin tak ada satupun anggota keluarga yang mendengar keluhanku, ia bersedia mendengarnya. Walupun mungkin saja dalam hatinya menganggap itu cuma hal sepele.
Aah aku malu pada diriku, malu pada mamah papahku, malu pada pacarku dan malu pada temanku itu meskipun ia nggak tahu. Tapi aku lebih malu pada Tuhan...ya ampuun aku serasa jadi orang buta, congean, nggak punya otak dan sebagainya. Kenapa masih saja aku kurang bersyukur. Padahal segudang nikmatNya tak pernah absen diberikan kepadaku. Keluarga yang cukup, pekerjaan yang nyaman dengan orang-orang menyenangkan, dan pacar yang walaupun ngeselin tapi selalu membuatku nyaman.
Yaa ampun selama ini kemana saja sih aku ?? Padahal tiap hari juga aku menghadapNya dan mengucap syukur atas nikmatNya. Tapi kemana semua doa-doa itu ?? Tiba-tiba saja aku takut semua nikmatNya dicabut dariku karena aku terlalu bebal untuk menyadarinya. Yaa Tuhan ampuni aku.. yang masih saja kurang bersyukur atas semua nikmatMu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar