Tak banyak orang memahami makna Tiga Kata Ajaib. Karena terlalu sering diucapkan, ketiga kata ini hanya memilki makna alakadarnya saja bagi banyak orang, bahkan bagi diriku. Sampai akhirnya aku mendapat pelajaran-pelajaran tentang Tiga Kata Ajaib ini. Ternyata Tiga Kata Ajaib ini memiliki makna yang baik bagi orang-orang yang mendengarnya. Apalagi bila ketiganya diucapkan benar-benar dengan ketulusan hati. Tapi sebenarnya apa sih Tiga Kata Ajaib yang kubicarakan ini??? Hmm..ketiga kata yang sering diucapkan setiap hari adalah Terimakasih, Maaf dan Tolong.
Salah satu pelajaran Tiga Kata Ajaib yang kudapat adalah dari seorang kawan lama yang pernah mengisi hatiku beberapa tahun lalu. Ia mengajariku makna mengucapkan kata terimakasih. Saat itu kami sedang dalam perjalanan dan melewati sebuah pintu tol di kawasan BSD. Tak lupa saat petugas penjaga tol memberikan uang kembalian, Ia mengucapkan terimakasih dengan senyuman. Saat itulah, dengan kebiasaannya yang banyak bicara Ia mengajariku makna kata terimakasih. Menurutnya pekerjaan menjaga pintu tol sangat membosankan karena setiap hari hanya melihat mobil-mobil saja. Pekerjaan mereka pun hanya dianggap rutinitas bagi para pengendara yang lewat. Tak banyak penghargaan yang mereka dapat. Menurut kawan lamaku, salah satu bentuk penghargaan yang bisa diberikan pada para penjaga pintu tol adalah mengucapkan terimakasih dengan senyuman. Dengan kedua hal tersebut yang dilakukan dengan tulus, Ia berharap mereka (para penjaga tol) tetap semangat bekerja karena pekerjaan mereka dihargai.
Pelajaran kata tolong kudapatkan dari pengalamanku sendiri. Aku termasuk orang yang gampang bersimpati dengan orang lain. Tak jarang, banyak orang yang memanfaatkan keluguanku. Salah satunya adalah seorang teman di bangku kuliah. Ia bukan teman dekatku, tapi Ia merasa dirinya dekat denganku karena rasa simpatiku pada kisah perkawinannya. Karena rasa simpatiku itulah Ia seringkali meminta bantuanku akan banyak hal. Pada awalnya aku sering menuruti kemauannya. Sampai akhirnya saat aku sadar Ia menguasai diriku. Bahkan untuk mengerjakan laporan skripsinya, Ia mengandalkanku. Suatu hari ia mengajakku menemaninya ke Rumah Sakit Kusta untuk tugas kuliahnya. Aku tidak pernah menjanjikan untuk menemaninya sebab pada saat hari H yang ditentukannya itu aku ada wawancara pekerjaan. Tapi baginya wawancara pekerjaanku bukanlah hal yang berarti. Ia mentertawakanku dan seakan-akan menganggap wawancara pekerjaan itu tidak penting untukku. Sampai pada hari H nya aku menolak pergi dengannya, Ia langsung marah dan mengirimik SMS dengan bunyi : “Kalau ngga bisa bilang dari kemaren dong, tau gitu gue ajak sepupu gue.” Yaa ampuun aku kan dari awal juga bilang nggak bisa. Sungguh orang yang aneh. Dan saat itu kusadari, Ia tidak pernah mengucapkan kata-kata tolong. Ia hanya menyuruhku layaknya babunya dengan kata-kata seru Eh.., Anterin dong!.., Bisa nggak?..., Bikinin dong!.., dan sebagainya tanpa memikirkan perasaanku. Tak jarang saat aku sedang menolongnya, Ia seringkali memarahiku karena aku melakukan kesalahan kecil. Terhadap pembantu rumah tangganya pun Ia seringkali berbuat tidak sopan. Aku seringkali mendengar saat Ia sedang marah-marah dan menyuruh pembantu rumah tangganya. Ya ampun, kalau aku jadi pembantunya aku tak akan tahan bekerja di rumah dengan Nyonya yang cerewet seperti itu. Lagaknya sudah kaya yang paling hebat, paling kaya dan paling benar saja.
Dari pengalamanku, aku belajar…jika kita memang membutuhkan bantuan seseorang dan benar-benar membutuhkannya, tidak ada salahnya terlebih dahulu mengucapkan kata tolong untuk menghormatinya. Tak jadi soal mengenai status sosial dan posisi kita. Baik itu kaya, miskin, tua, muda dan sebagainya mesti diperlakukan dengan adil.
Sedangkan untuk pelajaran kata maaf belum sepenuhnya kupahami. Aku hanya tahu jika berbuat kesalahan kita harus minta maaf. Tapi ternyata minta maaf itu sangat sulit dilakukan karena adanya rasa paling benar sendiri. Dalam hubungan sehari-haripun kadang-kadang kata maaf terucap hanya sekedarnya, hanya untuk menyenangkan lawan bicara atau pasangan tanpa diiringi dengan komitmen untuk memperbaiki kesalahan. Pelajaran tentang makna mengucapkan kata maaf memang belum banyak kudapatkan, tetapi pernah kubaca Blog seorang kawan tentang memaafkan. Maaf dan memaafkan memiliki makna yang sama, namun memaafkan sifatnya lebih pasif. Dalam Blognya kawanku menulis, salah satu obat sakit hati yang paling manjur yang disarankan oleh kawannya adalah memaafkan. Dengan catatan memaafkan yang tidak sekedarnya, tetapi memaafkan dengan tulus dan ikhlas dan juga mendoakan apapun yang terbaik untuk orang-orang yang pernah melakukan kesalahan pada kita. Dan menurutnya obat tersebut sangatlah manjur. Rasa sakit hatinya kepada seseorang berangsur-angsur bisa terobati. Otakku kembali melayang….membayangkan kalau tanpa minta maaf kesalahan kita dimaafkan oleh orang-orang yang baik dan juga didoakan segala kebaikan, trus bagaimana kalau kita mengucapkan maaf kepada orang tersebut dibarengin dengan komitmen diri untuk memperbaiki kesalahan yang diperbuat?? Selain sakit hatinya teman kita bisa lebih cepat hilang, kita juga jadi merasa lebih baik tanpa hutang rasa bersalah. Dan yang lebih untung lagi, jika teman kita itu terus mendoakan kebaikan-kebaikan buat kita. Yaa ampuun itu kan namanya sudah untung eh tambah untung lagi… Tapi tiba-tiba lamunanku pun terhenti karena menyadari tidak mungkin semua orang seperti kawanku itu. Bahkan diriku sendiri pun terkadang sulit untuk memaafkan kesalahan orang...