Selasa, Oktober 23, 2007

Kekecewaan Tiga Pengamen Cilik

Setiap kali naik bus atau angkot menuju kantor atau pulang ke rumah, tak pernah kulewatkan pemandangan para pengamen cilik menyanyikan lagu-lagu Indonesia yang lagi ngetop-ngetopnya. Jika didengarkan baik-baik, menurutku semua pengamen cilik baik yang laki-laki dan perempuan memiliki cengkokan suara yang sama. Menyanyikan lagu dengan suara seperti hidung dipencet hehehe…Aku merasa kasihan terhadap mereka. Karena jika diamati rata-rata umur mereka sekitar 7-13 tahun, tapi mereka harus bekerja keras mencari uang agar bisa bertahan hidup.

Kuperhatikan setiap kali mereka meminta uang dari penumpang bus, masing-masing dari mereka memiliki dua metode. Yakni meminta uang langsung kepada penumpang dengan kantong permen dan memberikan amplop pada setiap penumpang untuk diisi dengan uang. Aku bukanlah orang yang terlalu sering memberikan uang kepada mereka. Kadang aku memang merasa pelit dan kadang aku memang tak ada recehan. Hanya sekali-sekali saja kalau moodku lagi bagus atau mereka memang cukup menghibur baru kuberi uang untuk merekaa.

Aku selalu penasaran dengan yang mereka rasakan dalam hati jika mereka tak dapat uang dari para penumpang. Karena seringkali setiap kali selesai ngamen mereka benar-benar tak dapat sepeser-pun. Para pengamen cilik yang kujumpai, walaupun tak dapat uang selalu saja diam atau kadang-kadang mengucapkan terimakasih namun dengan muka yang terlihat kecewa.

Tapi yang kutemui kali ini agak sedikit berbeda. Tadi sore ketika aku naik bus menuju rumahku, ada tiga pengamen cilik yang terdiri dari seorang laki-laki dan dua orang perempuan masuk ke bus yang aku tumpangi. Seperti biasa, sebelum menyanyi mereka memberikan amplop-amplop kosong kepada para penumpang. Ada yang mengambil amplop dan ada yang langsung menolaknya. Aku sendiri tidak kebagian amplop, karena aku berdiri sambil memegang pegangan tangan di bagian atas bus. Ketika selesai menyanyikan dua buah lagu, yang laki-laki mengambil amplop dari tangan penumpang. Aku tak tahu berapa yang mereka dapat, tapi kurasa mereka tak dapat sepeserpun. Sebab setelah mengambil semua amplop tiba-tiba yang laki-laki ngedumel dengan suara agak keras “pelit-pelit banget sih..emangnya kalo ngasih duit ke kita bakal miskin yah? Ada yang gak dilipet lagi amplopnya..” kemudian salah satu dari yang perempuan berkata “duitnya disimpen buat kiamat kali..”. Mereka terus ngedumel tentang pelitnya para penumpang, namun sayang tak ada para penumpang bus yang menggubris ataupun peduli terhadap keluhan mereka. Aku-pun hanya bisa pura-pura tak peduli sambil mengamati keadaan di luar bus.

Dan dari mereka bertiga baru kuketahui, kalo setiap pengamen yang naik ke dalam bus itu sebenarnya sudah membayar sewa kepada supir bus. Ketika bus sudah hampir sampai terminal dan berjalan agak sembarangan, salah seorang dari yang perempuan berteriak marah dengan berkata “…pir..pir santai dong pir…sewanya kan mahal..kita kan udah bayar sewa”.. Ya ampuun…kalo dipikir-pikir kasihan banget yah mereka…apa sih yang mereka dapat dari mengamen itu? Jika biaya sewa lebih mahal dari apa yang mereka dapat…

Seringkali kudengar dari kawan atau info-info di media massa, kalau para pengamen cilik tersebut kadang tidak bekerja secara independen. Mereka punya agen atau penyalur yang menyuruh mereka bekerja dan nantinya uang hasil ngamen harus disetor untuk agen atau penyalur tersebut… Hmmm andaikan ada yang bisa kulakukan untuk membantu mereka...namun apa daya ?? Semoga Yang Kuasa tetap melindungi mereka dari hal-hal buruk..Amien

Senin, Oktober 15, 2007

Pay It Forward dan Harapan

Beberapa tahun lalu, aku pernah menonton sebuah film. Judulnya Pay It Forward. Film tersebut banyak membuka pikiranku tentang membalas kebaikan. Membalas kebaikan tidak selalu harus kepada orang yang membantu kita secara langsung. Kita bisa membalasanya dengan melakukan kebaikan untuk orang lain yang benar-benar membutuhkan.

Tokoh utama dari film tersebut adalah seorang anak kecil, yang aku sendiri sudah lupa namanya. Anggaplah nama anak itu Bintang. Bintang memilki seorang ibu yang sudah lama menjanda bernama Pelangi. Kisah ini dimulai ketika Bintang diberi tugas oleh gurunya, Pak Meteor untuk mengerjakan suatu proyek dengan tema mengubah dunia. Awalnya Bintang bingung bagaimana cara mengubah dunia jika Ia hanya diberikan waktu setengah semester saja. Banyak temannya yang sudah menyiapkan rencana membuat poyek-proyek dengan teknologi sederhana. Namun menurut Bintang, proyek semacam itu belum tentu bisa mengubah dunia secara keseluruhan. Ia menginginkan proyek yang lain daripada yang lain.
Akhirnya, dengan pola pemikiran yang sederhana, Bintang menemukan cara mengubah dunia. Ia berkomitmen untuk melakukan kebaikan pada tiga orang. Ketiga orang yang dibantunya, harus membalas kebaikannya dengan cara melakukan tiga kebaikan lagi kepada orang-orang di sekitarnya.
Bintang memulai proyeknya dari orang terdekatnya, yakni ibunya si Pelangi. Ia merasa kasihan dengan Pelangi yang sudah lama menjanda dan bekerja untuk menafkahinya. Bintang berusaha menjodohkan Pelangi dengan gurunya yang bernama Meteor, yang tak lain orang yang memberikan tugas kepada Bintang. Meteor yang punya masa lalu kelam dan memiliki bekas luka di wajahnhya bukanlah orang yang gampang untuk dijodohkan dengan Pelangi. Namun dengan berbagai cara yang dilakukan Bintang, keduanya bisa cocok satu sama lain. Dengan menjodohkan keduanya, Ia merasa sudah membantu kedua orang tersebut dan Ia meminta mereka membalasnya dengan kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka berduapun yang awalnya merasa lucu dengan permintaan Bintang, akhirnya mencoba melakukan kebaikan pada tiga orang lainnya dan meminta hal yang sama seperti yang Bintang minta.

Tak disangka-sangka kebaikan yang bermula dari Bintang akhirnya menyebar kemana-mana, bahkan seluruh dunia. Namun sayang di akhir cerita tokoh Bintang tidak bisa menikmati hasil proyeknya. Sebab Bintang dikisahkan meninggal dunia, ketika mencoba melakukan kebaikan ketiga kepada seorang temannya. Aku sedikit lupa, kalau tidak salah tokoh Bintang meninggal dunia karena ditusuk oleh kawannya secara tidak sengaja. Banyak orang yang merasa telah tertolong mengadiri pemakaman Bintang. Pada saat adegan tersebut, aku tidak bisa menahan air mata yang keluar dan ingus-ingus yang turun dari hidungku.
Film ini kutonton saat aku masih duduk di bangku SMA, sehingga banyak sekali adegan-adegan yang kulupa. Namun aku tak pernah lupa tentang proyek Pay It Forwad dari tokoh utama yang digambarkan seperti pohon faktor atau lebih tepatnya mirip dengan pola sistem MLM.

Hmmmmm…andaikan memang benar-benar ada kejadian seperti yang di film tersebut… Sepertinya aku berharap terlalu banyak….hehehe…

Minggu, Oktober 14, 2007

Tiga Kata Ajaib

Tak banyak orang memahami makna Tiga Kata Ajaib. Karena terlalu sering diucapkan, ketiga kata ini hanya memilki makna alakadarnya saja bagi banyak orang, bahkan bagi diriku. Sampai akhirnya aku mendapat pelajaran-pelajaran tentang Tiga Kata Ajaib ini. Ternyata Tiga Kata Ajaib ini memiliki makna yang baik bagi orang-orang yang mendengarnya. Apalagi bila ketiganya diucapkan benar-benar dengan ketulusan hati. Tapi sebenarnya apa sih Tiga Kata Ajaib yang kubicarakan ini??? Hmm..ketiga kata yang sering diucapkan setiap hari adalah Terimakasih, Maaf dan Tolong.

Salah satu pelajaran Tiga Kata Ajaib yang kudapat adalah dari seorang kawan lama yang pernah mengisi hatiku beberapa tahun lalu. Ia mengajariku makna mengucapkan kata terimakasih. Saat itu kami sedang dalam perjalanan dan melewati sebuah pintu tol di kawasan BSD. Tak lupa saat petugas penjaga tol memberikan uang kembalian, Ia mengucapkan terimakasih dengan senyuman. Saat itulah, dengan kebiasaannya yang banyak bicara Ia mengajariku makna kata terimakasih. Menurutnya pekerjaan menjaga pintu tol sangat membosankan karena setiap hari hanya melihat mobil-mobil saja. Pekerjaan mereka pun hanya dianggap rutinitas bagi para pengendara yang lewat. Tak banyak penghargaan yang mereka dapat. Menurut kawan lamaku, salah satu bentuk penghargaan yang bisa diberikan pada para penjaga pintu tol adalah mengucapkan terimakasih dengan senyuman. Dengan kedua hal tersebut yang dilakukan dengan tulus, Ia berharap mereka (para penjaga tol) tetap semangat bekerja karena pekerjaan mereka dihargai.

Pelajaran kata tolong kudapatkan dari pengalamanku sendiri. Aku termasuk orang yang gampang bersimpati dengan orang lain. Tak jarang, banyak orang yang memanfaatkan keluguanku. Salah satunya adalah seorang teman di bangku kuliah. Ia bukan teman dekatku, tapi Ia merasa dirinya dekat denganku karena rasa simpatiku pada kisah perkawinannya. Karena rasa simpatiku itulah Ia seringkali meminta bantuanku akan banyak hal. Pada awalnya aku sering menuruti kemauannya. Sampai akhirnya saat aku sadar Ia menguasai diriku. Bahkan untuk mengerjakan laporan skripsinya, Ia mengandalkanku. Suatu hari ia mengajakku menemaninya ke Rumah Sakit Kusta untuk tugas kuliahnya. Aku tidak pernah menjanjikan untuk menemaninya sebab pada saat hari H yang ditentukannya itu aku ada wawancara pekerjaan. Tapi baginya wawancara pekerjaanku bukanlah hal yang berarti. Ia mentertawakanku dan seakan-akan menganggap wawancara pekerjaan itu tidak penting untukku. Sampai pada hari H nya aku menolak pergi dengannya, Ia langsung marah dan mengirimik SMS dengan bunyi : “Kalau ngga bisa bilang dari kemaren dong, tau gitu gue ajak sepupu gue.” Yaa ampuun aku kan dari awal juga bilang nggak bisa. Sungguh orang yang aneh. Dan saat itu kusadari, Ia tidak pernah mengucapkan kata-kata tolong. Ia hanya menyuruhku layaknya babunya dengan kata-kata seru Eh.., Anterin dong!.., Bisa nggak?..., Bikinin dong!.., dan sebagainya tanpa memikirkan perasaanku. Tak jarang saat aku sedang menolongnya, Ia seringkali memarahiku karena aku melakukan kesalahan kecil. Terhadap pembantu rumah tangganya pun Ia seringkali berbuat tidak sopan. Aku seringkali mendengar saat Ia sedang marah-marah dan menyuruh pembantu rumah tangganya. Ya ampun, kalau aku jadi pembantunya aku tak akan tahan bekerja di rumah dengan Nyonya yang cerewet seperti itu. Lagaknya sudah kaya yang paling hebat, paling kaya dan paling benar saja.
Dari pengalamanku, aku belajar…jika kita memang membutuhkan bantuan seseorang dan benar-benar membutuhkannya, tidak ada salahnya terlebih dahulu mengucapkan kata tolong untuk menghormatinya. Tak jadi soal mengenai status sosial dan posisi kita. Baik itu kaya, miskin, tua, muda dan sebagainya mesti diperlakukan dengan adil.

Sedangkan untuk pelajaran kata maaf belum sepenuhnya kupahami. Aku hanya tahu jika berbuat kesalahan kita harus minta maaf. Tapi ternyata minta maaf itu sangat sulit dilakukan karena adanya rasa paling benar sendiri. Dalam hubungan sehari-haripun kadang-kadang kata maaf terucap hanya sekedarnya, hanya untuk menyenangkan lawan bicara atau pasangan tanpa diiringi dengan komitmen untuk memperbaiki kesalahan. Pelajaran tentang makna mengucapkan kata maaf memang belum banyak kudapatkan, tetapi pernah kubaca Blog seorang kawan tentang memaafkan. Maaf dan memaafkan memiliki makna yang sama, namun memaafkan sifatnya lebih pasif. Dalam Blognya kawanku menulis, salah satu obat sakit hati yang paling manjur yang disarankan oleh kawannya adalah memaafkan. Dengan catatan memaafkan yang tidak sekedarnya, tetapi memaafkan dengan tulus dan ikhlas dan juga mendoakan apapun yang terbaik untuk orang-orang yang pernah melakukan kesalahan pada kita. Dan menurutnya obat tersebut sangatlah manjur. Rasa sakit hatinya kepada seseorang berangsur-angsur bisa terobati. Otakku kembali melayang….membayangkan kalau tanpa minta maaf kesalahan kita dimaafkan oleh orang-orang yang baik dan juga didoakan segala kebaikan, trus bagaimana kalau kita mengucapkan maaf kepada orang tersebut dibarengin dengan komitmen diri untuk memperbaiki kesalahan yang diperbuat?? Selain sakit hatinya teman kita bisa lebih cepat hilang, kita juga jadi merasa lebih baik tanpa hutang rasa bersalah. Dan yang lebih untung lagi, jika teman kita itu terus mendoakan kebaikan-kebaikan buat kita. Yaa ampuun itu kan namanya sudah untung eh tambah untung lagi… Tapi tiba-tiba lamunanku pun terhenti karena menyadari tidak mungkin semua orang seperti kawanku itu. Bahkan diriku sendiri pun terkadang sulit untuk memaafkan kesalahan orang...

Senin, Oktober 08, 2007

intermezzo satu

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, kusempatkan diri membaca surat kabar sebentar. Di surat kabar dimana aku berlangganan, ada sebuah rubrik yang sangat kusenangi. Tapi aku lupa rubriknya apa. Letaknya di pojok kiri halaman depan. Dibandingkan judul headline, aku lebih suka membaca rubrik itu terlebih dahulu, bahkan terkadang hanya rubrik itu saja yang kubaca..hehehe..
Judul yang dimuat hari ini aku juga lupa..tapi intinya tentang kemenangan setelah sebulan puasa. Aku merinding banget ngebacanya. Gimana gak merinding...kalo misalnya udah sebulan kita puasa tapi puasa kita nggak ada nilainya di mata Tuhan cuma gara-gara kita nggak bisa menangkap inti dari puasa itu. Sia-sia dong rasa lapar yang kita tahan sebulan ini....

Aku jadi bertanya-tanya..gimana yah nilai puasaku...adakah?? atau hanya nol?? atau bahkan minus??..
Kucoba untuk memflash back puasaku selama hampir sebulan ini..

  • Sholat Tarawih cuma sekali
  • Ngomongin orang nggak pernah kulewatkan...yaa ampuun
  • Hari ke 6 bulan Ramadhan aku bertengkar hebat dengan keluargaku
  • Suudzon ke pacarku pun juga kadang timbul

Yaa ampuun..kayanya nggak ada yang bagus-bagus yah yang kulakukan selama hampir sebulan ini....
Aku teringat, ketika diadakan buka puasa bersama di kantorku. Seorang petinggi di perusahaan sempat memberikan wejangan. Ia mengaku bahwa ia memang tidak melakukan Sholat sebab belum mendapat hidayah atau panggilan. Dan sejujurnya aku kurang menyukainya...sebab numbuh rambut di kedua telinganya yang membuatnya nampak aneh dan terlihat nyebelin.
Tapi wejangannnya saat itu sangat bagus. Puasa seharusnya merubah seseorang. Ia mengibaratkan seekor ular dan ulat. Ular hanya bisa ber-evolusi menjadi ular, sedangkan ulat bisa berubah menjadi seeokor kupu-kupu yang cantik. Ia berkata, jika kita bisa menangkap inti dari puasa, seharusnya puasa kita seperti puasanya seekor ulat, bukan ular. Intinya, puasa seharusnya merubah kita menjadi seorang yang berubah ke arah kebaikan..

Bagaimana denganku? denganmu? dan anda semua?.....sudahkah menangkap intinya?

Kamis, Oktober 04, 2007

Kebebalanku..

Beberapa minggu lalu aku bertemu dengan seorang kawan baru. Kami memang baru kenal, namun banyak sekali kecocokan diantara kami yang membuatku merasa akrab dengannya.
Kami bertemu di sebuah restoran yang menjual Cwie Mie Malang di daerah Cilandak. Awalnya kami hanya ngobrol tentang topik-topik dangkal saja, tentang teman, tentang pacar dan tentang kekesalannya kepada seseorang. Sampai akhirnya ia mulai bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Beberapa waktu lalu, aku memang sempat jalan bareng. dan ia sempat menceritakan tentang keluarganya. Ketika kami bertemu lagi dan ia menceritakan kehidupan pribadinya, barulah snap shot-snap shot cerita sebelumnya mulai terungkap. Cerita-ceritanya sangat mengejutkan.. aku nggak tau harus bilang apa.
Ia anak pertama dari 5 bersaudara. Dan ia merupakan tulang punggung keluarga. Semua masalah keluarganya, ia yang berusaha menyelesaikannya. Padahal umurnya tak berbeda jauh dariku. Ia satu tahun lebih tua dariku. Ia mengaku ayah dan ibunya saat ini sakit-sakitan, sehingga hanya dia yang bisa diandalkan untuk mencari uang. Masalah-masalah di keluarganya bukan hanya masalah sepele. Terlalu banyak masalah, sampai ia sulit sekali mendapat kebebasan fisik dan mental.
Dia terus bercerita. Kami berdua tidak sadar bahwa hari sudah semakin larut. Pacarnya berkali-kali menelponnya. Sesaaat aku sempat iri padanya. Diantara segudang masalah, ia masih punya seseorang yang bisa diandalkan, yang tak lain dan tak bukan adalah pacarnya. Pacarnya terus mendampinginya saat ia dalam masalah maupun saat senangnya.
Akhirnya kami menyadari bahwa sudah malam dan harus segera pulang. Kami pun berpisah. Di perjalanan pulang, aku hanya berpikir betapa anehnya ia menceritakan semua kepadaku dan menyadari bahwa aku semakin iri padanya. Bahwa dia punya pacar yang perhatian dan sangat sayang dengannya. Bahkan, mungkin aku sudah lupa tentang masalah pibadinya.
Keesokan hari aku baru menyadari, betapa menyebalkan pacarku. Kenapa sih dia nggak bisa peduli padaku sedikit saja. Kemanapun aku pergi, mana pernah ia bertanya sudah pulang atau belum. Mana pernah ia khawatir saat aku berada dimana. Menyebalkan. Hanya itu yang ada di otakku seharian. Hal itu pun terbawa saat aku chating dengan pacarku. Akhirnya malam setelah pulang kantor, aku bilang ke pacarku betapa ngirinya aku pada temanku itu, yang tidak lain juga teman sepermainannya dulu waktu masa kuliah. Pacarku yang sudah tau adatku, ternyata sudah tau kalau uring-uringanku saat itu pasti ada hubungannya dengan pertemuanku dengan temannya kemarin.
Pacarku memang tidak sempurna. Ya iyalah...dia kan manusia. Pasti ada kurangnya dan lebihnya. Dia emang cuek, cuek dan cuek. Heran...ada yah orang bebal kaya gitu. Tapi entahlah, aku merasa nyaman saat bersamanya. Padahal sudah berkali-kali aku nangis karena kelakuannya. Yang jelas, saat aku sedang bercerita betapa ngirinya aku pada temanku itu, ia menamparku dengan kata-katanya, yang diucapkan sambil tertawa. Ia bilang kalau aku tidak bersyukur dengan yang aku dapat. Jedeeerrr jederr jederrrr serasa kilat menyambar. Ia memang paling bisa membuatku berpikir, dan mungkin karena itu juga aku menyukainya.
Setelah ia menamparku dengan kata-katanya yang simpel itu, aku kemudian berpikir. Mungkin benar yang ia bilang. Pikiranku kembali melayang ke pertemuanku dengan temanku kemarin....Hmmmmmmmm membayangkan..gimana rasanya jadi dia. Susah punya kebebasan fisik dan mental karena harus ngurusin semua masalah keluarga dan kantor. Ia memang punya pacar penyayang. Tapi otak dan hatinya gak pernah lepas dari masalah-masalahnya. Yang hebat darinya, segudang masalah nggak membuat ia jadi orang yang nggak menyenangkan. Ia teman yang baik, kakak yang baik, anak yang baik dan mungkin juga pacar yang baik..Sedangkan aku ???.. ya ampun..kalau bukan karena pacarku yang barusan menamparku, mungkin aku nggak akan pernah sadar.
Alhamdulillah sampai saat ini aku hidup cukup. Masalah keluarga pun nggak pernah sampai membuatku pusing dan tak bebas secara fisik dan mental. Masalahku paling-paling cuma masalah rebutan mobil sama adik dan kakakku..padahal kalau dipikir-pikir banyak orang nggak punya mobil, dan mereka nggak masalah.
Pacarku pun walaupun bebal, tapi aku juga nggak kalah bebalnya. Seringkali aku merengek minta ini itu tanpa mikirin situasi. Dan ia pun juga tak jarang menuruti rengekanku. Aku ingat, awal puasa lalu ia sempat mengantarku ke daerah Fatmawati dan Kuningan cuma untuk nyari modem. Padahal aku tau ia capek, dan sedang berpuasa. Tapi ia dengan ikhlas menuruti egoku. Dan tak jarang juga ia menjemputku kalau aku pulang malam. Bahkan, ketika kemarin tak ada satupun anggota keluarga yang mendengar keluhanku, ia bersedia mendengarnya. Walupun mungkin saja dalam hatinya menganggap itu cuma hal sepele.
Aah aku malu pada diriku, malu pada mamah papahku, malu pada pacarku dan malu pada temanku itu meskipun ia nggak tahu. Tapi aku lebih malu pada Tuhan...ya ampuun aku serasa jadi orang buta, congean, nggak punya otak dan sebagainya. Kenapa masih saja aku kurang bersyukur. Padahal segudang nikmatNya tak pernah absen diberikan kepadaku. Keluarga yang cukup, pekerjaan yang nyaman dengan orang-orang menyenangkan, dan pacar yang walaupun ngeselin tapi selalu membuatku nyaman.
Yaa ampun selama ini kemana saja sih aku ?? Padahal tiap hari juga aku menghadapNya dan mengucap syukur atas nikmatNya. Tapi kemana semua doa-doa itu ?? Tiba-tiba saja aku takut semua nikmatNya dicabut dariku karena aku terlalu bebal untuk menyadarinya. Yaa Tuhan ampuni aku.. yang masih saja kurang bersyukur atas semua nikmatMu...